Hikayat Kaleng Khong Guan Sampai Tagline Mental Aman ?

 


Hari raya Khong Guan nampaknya juga bisa menjadi sebuah istilah seperti lumrahnya kita menyebut hari raya ketupat setelah jeda 7 hari raya idhul fitri.

Entah apa yang menarik tentang kaleng Khong Guan yang seakan sudah menjadi perdebatan cerita rakyat yang memasyarakat, mulai klaim bahwa anak-anak tersebut yatim karena tidak ada gambar bapaknya, atau bapaknya yang sedang mengambil foto, bahkan ada yang bilang Bapaknya sedang perang, belum lagi polemik Khong Guan isi rengginang, sampai yang menjengkelkan yang pernah saya alami adalah jebakan dari kawan-kawanku bocil dulu yang merekatkan dua roti yang diisi dengan selai pasta gigi, kan kampret!

Memang tak ada yang mencurigakan dengan gigitan pertama, hanya terasa dingin isis di area mulut, lah kok lama-lama tenggorokan ikut dingin juga dengan khas rasa odol yang mulai terasa.

Intinya dari sekian drama kaleng Khon Guan tersebut yang bisa dipercaya ya pernyataan dari sang pelukis gambar kaleng Khong Guan itu sendiri yakni Pak Bernardus Prasodjo yang mengatakan

"Sing penting kan ada gambar ibunya, lha wong sing suka belanja kan ibu-ibu" kok simpel cuk!

Yo simpel, yang membuat ruwet dan viral kan orang-orang yang berspekulasi banyak tentang kaleng Khong Guan itu sendiri, wong saya yakin di negara China atau Singapura sana juga tidak ada yang mempermasalahkan tentang gambar Khong Guan keluarga tanpa ayah tersebut.

Nah seperti itulah cerminan orang-orang yang kemenyek, kemeruh, kemlinthi alias sok tahu sehingga apa-apa ditafsiri dengan "tafsir jalanlain" seenak udhelnya sendiri. Sudah malas membaca, minim referensi, maunya menang sendiri.

Tapi yang lebih pelik lagi adalah ketika sajian Khong Guan tersebut dibumbui dengan ajang sidang penghakiman pertanyaan horor dari keluarga besar ketika hari raya.

Tradisi pertanyaan-pertanyaan template yang dikeluarkan setiap tahunya membuat para muda-mudi agak risih karena terus-terusan kikuk dalam menjawabnya.

Kapan nikah? Sudah sampai mana skripsinya? Kapan wisuda? Kerja dimana? Kapan punya momongan? Wah mateng aku!. Walaupun pertanyaan tersebut menandakan bentuk perhatian dan kasih sayang kepada yang lebih muda, tapi bagi yang masih pengangguran atau mahasiswa semester nazak biasanya memilih hanya mengumbar senyum tipis sambil salting tidak jelas dan kemudian diam-diam mlipir dari lingkaran obrolan demi mengamankan mental.

Beda cerita lagi jika mereka yang sudah mapan, lulus kuliahnya tepat waktu, jelas pekerjaanya, kendaraanya avanza, maka dengan dada yang sedikit membusur akan sangat betah dalam meladeni segala obrolan ngalur ngidul Pak De dan Bu De nya karena mereka sudah merasa pada titik zona aman.

Kalau sudah tahu begitu, seharusnya hal demikian menjadi cambukan tersendiri untuk selalu mengupgrade diri kita dalam hal apapun baik dari segi hard skill maupun soft skill biar di lebaran tahun depan sudah punya bekal untuk menghadapi serbuan pertanyaan itu.

Sebenarnya ini sudah menjadi konsekuensi logis dari berjalanya sebuah interaksi sosial dalam lingkup keluarga. Semua orang juga sudah tahu kalau proses setiap orang itu berbeda-beda masanya, jangan suka membanding-bandingkan prosesmu dengan orang lain, tapi kamu yo juga jangan terjebak dengan narasi utopis tersebut sehingga malah leha-leha.

Konklusinya tentukanlah cara bersikapmu dengan matang dan dewasa, jangan suka mengamini kegagalan dengan bungkus kata-kata mutiara, mungkin itu perlu juga sebagai penenang jiwa, tapi segeralah bangun sehingga kamu tidak merasa menjadi si paling kena mental di dunia ini xixixixixi.

Salam hangat dan semangat kawan.
Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
You are not alone, i'm here with you.


Oleh: Admin













Komentar