Melek Digital Tanpa Bebal, JNE Siap Jadi Mercusuar UMKM di Blitar

Bisa dikatakan industri kecil atau UMKM menjadi penyerap angkatan kerja paling banyak daripada BUMN.

Menurut data dari Binus University, UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) mampu menyerap tenaga kerja sekitar 96,9% dari total tenaga kerja nasional.

Maka dari itu, UMKM merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam membangun siklus perekonomian bagi suatu bangsa.

Sudah sepatutnya, kelompok industri kecil mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing barang dan jasa berbasis sumberdaya lokal.

Berikut ini merupakan contoh segelintir UMKM di Blitar yang terus eksis dalam mengelola sumber daya lokalnya, sehingga mampu mendorong perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar.

1. Omah Jenang Blitar

Foto bersama Pak Chinyo di Wisata Edukasi Omah Jenang Blitar

"Katakan Cinta dengan Jenang", merupakan slogan monumental yang akan kalian jumpai tatkala berkunjung ke wisata edukasi Omah Jenang di Jl. Masjid Utara No.46, Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kota Blitar.

Berbisnis jenang seperti yang ditelateni oleh Pak Chinyo Christiawan mungkin menjadi hal yang nyeleneh bagi sebagian masyarakat karena dianggap terlalu kuno dan ndeso.

Akan tetapi siapa sangka, bisnis makanan tradisional tersebut justru pemasarannya telah tembus hingga ke Hongkong.

Diketahui, bisnis jenang tersebut pada awalnya didirikan oleh Pak Nyoto sejak 1985 dengan nama Omah Jenang Kelapa Sari.

Lazimnya, proses pembuatan jenang hanya dilakukan masyarakat Blitar dan sekitarnya saat ada pesta pernikahan saja.

Namun, Omah Jenang yang telah diwariskan kepada Pak Chinyo tersebut melihat adanya potensi agar aktivitas ngudek (mengaduk) jenang dapat dikembangkan menjadi bisnis berskala luas.

Di wisata Omah Jenang Blitar kita tidak hanya disuguhi proses pembuatan jenang, namun juga bisa belajar mulai dari pengemasan, pemasaran, tips berwirausaha, dan mengetahui sisi-sisi filosofisnya.

Proses ngudek jenang menunjukan filosofi gotong royong dan guyub rukun antar warga. Beratnya adukan jenang akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama.

2. UMKM Opak Gambir

Foto di UD. Wijaya Kusuma produsen opak gambir di Blitar

Pengoptimalan dari sebuah potensi lokal lainnya yang ada di Blitar yakni UD. Wijaya Kusuma, produsen opak gambir yang digawangi oleh Ibu Dian Kartikawati.

UD. Wijaya Kusuma beralamatkan di Jl. Kemuning, Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

UMKM opak gambir tersebut didirikan dengan latar belakang adanya keluhan dari para produsen yang kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen saat menjelang liburan sekolah, hari raya, dan musim hajatan.

Akhirnya, dibentuklah UD. Wijaya Kusuma yang mengakomodir dan menjadikan opak gambir sebagai komoditi utama di Blitar, berdaya saing tinggi, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dikutip dari laman resmi udwijayakusuma.com, bahwa untuk menunjang kemajuan perusahaan maka harus dibarengi dengan inovasi manajemen yang mumpuni.

Adapun inovasi manajemen tersebut meliputi standar produksi yang tinggi, bahan baku berkualitas, SDM unggul, bina lingkungan terjaga, dan SMART marketing.

UMKM yang sudah beroperasi sejak tahun 2012 tersebut memfasilitasi sarana edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar pembuatan opak gambir dan jajanan khas Blitar lainnya, seperti semprit garut, sagon, egg roll, koyah kacang hijau, kerupuk susu, dan lain sebagainya.

UD. Wijaya Kusuma juga berpartisipasi aktif dalam berbagai event yang berkaitan dengan program pemberdayaan masyarakat.

Beberapa diantaranya, pada tahun 2022 terlibat dalam peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro (pemasaran online dan offline).

Selain itu, di tahun 2023 juga aktif dalam pendampingan pelaku usaha masyarakat DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) yang diinisiasi oleh Dinsos Kota Blitar.

Hingga kini, pemasaran produk UD. Wijaya Kusuma telah menjangkau wilayah Tulungagung, Malang, Batu, dan Pasuruan.

3. Kebun Sayur Hidroponik Kang Arif Pelni

Foto mahasiswa magang dengan Kang Arif Pelni

"Daripada nggak ngapa-ngapain karena sudah pensiun dari pelayaran, akhirnya saya cari kesibukan lain dengan membuat kebun sayur hidroponik ini".

Begitulah kiranya penuturan Kang Arif Pelni selaku pemilik kebun hidroponik di Jl. Pamenang No. 28, Bendongerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Adapun kata Pelni di akhir nama beliau merupakan akronim dari "Pelayaran Nasional Indonesia". Kata Pelni sengaja disematkan di belakang namanya sebagai bentuk kebanggaan karena pernah bekerja di pelayaran.

Kang Arif sangat serius dalam menjalankan bisnis hidroponik. Hal itu terbukti dengan banyaknya permintaan sayur hidroponik dari pedagang sekitar bahkan pendistribusiannya sudah sampai kota Surabaya.

Memang sayuran hidroponik memiliki kelebihan tahan lama, serta kualitas dan kuantitas yang dihasilkan lebih tinggi. 

Kebun sayur hidroponik Kang Arif Pelni juga kerap kali disambangi para pelajar dan mahasiswa magang yang ingin mendalami hal ihwal terkait hidroponik.

Menurut pria paruh baya tersebut, dirinya mengaku senang jika kebun hidroponiknya selain menjadi sumber penghasilan, juga menjadi sumber kebermanfaatan bagi mereka yang ingin memperdalam bisnis hidroponik.

Peran JNE Terhadap Geliat UMKM di Blitar

Salah satu momok paling krusial dan menakutkan bagi pelaku UMKM adalah pemasaran dan pendistribusian produk yang sudah mereka hasilkan.

Terkadang para pelaku UMKM medioker yang memang belum mempunyai pelanggan mapan, masih ketar-ketir jika produknya tidak bisa dikenali masyarakat luas.

Maka, selain penguasaan digital marketing yang mutakhir, perlu juga medium penyaluran barang yang menjembatani antara penjual dan pembeli.

Di era yang serba sat-set ini, JNE telah menunjukkan tajinya dalam bidang ekspedisi barang dengan jaringan dan pendistribusian ke berbagai kota.

Tak ayal, jika jajaran kelompok UMKM yang berada di Blitar bisa menjadikan JNE sebagai mercusuar dalam rangka meningkatkan masifitas pengiriman barang kepada pelanggan.

Bukan tanpa alasan, kini JNE telah berinovasi dengan metamorfosis digital dengan menghadirkan aplikasi MY JNE.

Kemudahan aplikasi MY JNE yakni dapat meringankan controlling para pelaku UMKM. Karena dari aplikasi tersebut kita dapat melacak tarif kiriman dan mengetahui posisi paket yang sedang diantar.

Layanan berbasis aplikasi MY JNE tentunya menjamin barang yang dikirim sampai di tangan penerima tepat waktu sesuai dengan estimasi yang telah diperkirakan.

Apalagi ketiga UMKM di Blitar tersebut telah melebar-luaskan sayap penjualannya ke berbagai wilayah. Sayur hidroponik Kang Arif Pelni menjadi penyuplai utama sebuah restoran di Surabaya.

Opak gambir UD. Wijaya Kusuma telah mengekspansi produknya ke wilayah Tulungagung, Malang, Batu, dan Pasuruan. Sedangkan olahan jenang Pak Chinyo bahkan sudah tembus pasar ekspor ke Hongkong.

Menariknya, kini JNE Express telah mengantongi sertifikat ISO 27001:2022 untuk kategori operasional Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Dikutip dari website resmi jnewsonline.com, penghargaan prestisius tersebut didapatkan dari PT. TSI Sertifikasi Internasional sekaligus sebagai kado terindah di ulang tahun JNE ke-33.

Dengan adanya sertifikasi tersebut, JNE berkomitmen tinggi untuk menjaga keamanan data konsumen dengan baik dan maksimal.

Istimewanya lagi, JNE merupakan perusahaan logistik pertama di Indonesia yang menyabet sertifikat ISI 27001:2022.***

#JNE

#ConnectingHappiness

#JNE33Tahun

#JNEContentCompetition2024

#GasssTerusSemangatKreativitasnya

Oleh: Nur Saifullah 







Komentar